Welcome to my blog

please in

Entri Populer

28 Februari 2011

Apa yang sebenarnya terjadi di Libya ?

Oleh : Aulia Rahman, SH

Minimnya informasi tentang krisis di Libya memungkinkan munculnya beragam analisa. Publik seharusnya tidak menelan mentah-mentah pemberitahuan media-media mainstream yang sudah berkali-kali terbukti berperan penting dalam upaya penggulingan rezim di negara-negara Dunia Ketiga. Selain itu, jika di Mesir ada kelompok Ikhwanul Muslimin, dalam krisis di Libya belum ada nama-nama tokoh oposisi yang muncul ke permukaan atau siapa yang berperan dalam mobilisasi massa di Libya.

Dalam analisis penulis, menelisik dimensi lain pemicu krisis di Libya yang mungkin luput dari perhatian publik dunia, yaitu sumber minyak Libya yang berlimpah.

Mengutip Wall Street Journal edisi 28 Agustus 2009 yang menyebutkan bahwa Libya adalah negara di Afrika yang memiliki sumber minyak terbanyak. "konsesi minyak Libya diserahkan kepada perusahaan-perusahaan minyak yang sudah umum didengar telinga, British Petroleum, Total, Shell, atau Exxon Mobil. Perusahaan-perusahaan yang juga mengeruk minyak dan gas di Indonesia dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya, yang saham terbesarnya dikuasai oleh orang-orang Zionis".

Dalam laporannya, Wall Street Journal mengeluhkan sikap Libya yang menyulitkan investor. Rupanya, sejak tahun 2007, pemerintah Libya memaksa perusahaan-perusahaan minyak asing untuk menegosiasi ulang kontrak, harus membayar bonus yang sangat besar, dan mendapatkan hak eksplorasi yang lebih sedikit.
Libya mengancam perusahaan-perusahaan itu dengan wacana nasionalisasi, jika mereka menolak syarat-syarat yang ditetapkan.

Masih menurut Wall Street Journal, dalam kondisi seperti itu, tender hanya mungkin dimenangkan oleh perusahaan minyak milik negara seperti Gazprom dari Rusia atau Sonatrach dari Aljazair.

Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan swasta milik pengusaha-pengusaha Zionis itu merasa "tergencet" dengan persyaratan yang diajukan penguasa Libya.

Lebih lanjut, bahwa laporan Wall Street Journal itu bersesuaian dengan doktrin lama kekuatan-kekuatan kapitalis Zionis : bila ada rezim yang mengancam kepentingan kapitalis, maka gulingkan"

Lembaga-lembaga think-tank Zionis, mulai dari Freedom House, National Democrat Institute, International Republican Institute, USAID, hingga LSM-LSM swasta yang didanai milyader Zionis macam open Society-nya George Soros sudah terbukti menjadi dalang dari upaya-upaya penggulingan rezim (baik yang sudah berhasil maupun belum) di Serbia, Georgia, Ukraina, Kyrgyztan, Nikaragua, Myanmar, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Palestina, Lebanon, dan Iran (meskipun untuk Iran, Zionis dilanda kekalahan karena pasca runtuhnya Syah Iran, justru pemimpin Islam yang memegang kekuasaan)

Tentu saja, upaya "pemberian bantuan" untuk penggulingan rezim disebuah negara bukan mereka lakukan dengan niat tulus membebaskan rakyat dari kediktatoran sebuah rezim, tapi semata-semata demi memuluskan jalan bagi korporasi-korporasi transnasional milik Zionis.

Di akhir tulisan ini, bahwa analisa ini bukan untuk membela Khadafi yang jelas-jelas seorang diktator, akan tetapi untuk menyatakan bahwa kroni AS-Zionis itu banyak jenisnya.

Ada yang budak dalam arti seutuhnya, tunduk patuh pada apapun kata sang tuan, seperti Ben Ali atau Husni Mobarak, sampai-sampai rakyat mereka hidup miskin.
Ada pula yang berwujud diktator, seperti Khadafi, tetapi masih berani bermulut besar didepan barat sehingga rakyatnya tetap punya uang sekitar 14.000 dolar pertahun.
Ada pula yang menjaga citra sebagai pemimpin yang ramah dan demokratis, namun sesungguhnya lewat tangannyalah kekayaan alam negaranya diobral habis kepada korporasi AS-Zionis.

Allahualam Bishawab
Semoga bermanfaat untuk meluruskan pandangan kita terhadap apa yang terjadi di Libya

1 komentar:

thanks for your attention